BID'AH APA SESAT...?


 عبدالرحمن بنجر                                                                                   


Bukti lengkap Konsep "Bid'ah Hasanah dan Bid'ah Dholalah" di Classic Book [8 Scanned Kitab Fathul bari dari (Ibn Hajar atsqalani) - Tahdib al asma wallughat - Syarah Muslim (Imam Nawawi) - Al Nihayah (Ibnu Atsir) - al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam (Hazam al-Zhahiri)-Qawa'idul Ahkam (Imam Izzudin) - Manaqib Imam Syafii (Imam Al          
Baihaqi) - Muwafaqah (Ibnu Taimiyyah) 


Bukti lengkap Konsep "Bid'ah Hasanah dan Bid'ah Dholalah" dalam Kitab Klasik 

Dipindai Kitab dari:

1.Fathul bari (Ibn Hajar atsqalani) : Hukum Bid’ah ada 5

2.  Tahdib al asma wallughat – Syarah Muslim (Imam Nawawi)

3. Al nihayah (Ibn Athir)

4.  al-Ahkam fi Usul al-Ahkam(Hazam al-Zahiri)

5. Qawa’idul Ahkam (Imam Izzudin)

6. Manaqib Imam Syafii (Imam Al baihaqi)

7.  Muwafaqah (Ibn Taymiyah)

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari 

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari, Diterbitkan oleh Maktaba Dar ul Marifah, Beirut, Lebanon 

Imam Ibnu Hajar Asqalani (hura) mengatakan: Arti akar inovasi adalah apa yang diproduksi tanpa preseden. Hal ini diterapkan dalam hukum bertentangan dengan Sunnah dan karena itu tercela. Sebenarnya, jika itu adalah bagian dari apa yang diklasifikasikan sebagai terpuji oleh hukum maka itu adalah "inovasi Baik (hasana)", sedangkan jika itu adalah bagian dari apa yang diklasifikasikan sebagai tercela oleh hukum maka itu adalah tercela (mustaqbaha), selain itu jatuh dalam kategori apa yang diizinkan acuh tak acuh (mubah). Hal ini dapat dibagi ke dalam lima kategori dikenal. "" Wajib "(wajib)," terlarang "(haram)," direkomendasikan "(mandub)," menyukai "(makruh), dan" acuh tak acuh diijinkan "(mubah). [Fath ul Bari: Volume 004, No 253 Halaman]


 Hukum Bid’ah ada 5

Abu al-Asma 'wa al-Lughat, Imam Nawawi, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut / Lebanon
Syaikh al-Islam, Imam al-Nawawi mengatakan: al-Bid `ah dalam UU adalah berinovasi dari apa yang tidak ada di zaman Rasulullah dan dibagi menjadi" sangat baik "dan" buruk "(Wahya munqasimatun ila h.asana wa qabih.a). Syaikh, Imam pada yang terpenting kepemimpinan, kebesaran, berdiri, dan kecemerlangan dalam segala macam ilmu-ilmu Islam ada konsensus, Abu Muh.ammad `Abd al-` Aziz ibn `Abd al-Salam - Allah kasihanilah dia dan menjadi baik-senang dengan dia! - Mengatakan menjelang akhir bukunya, al-qawa `id [al-Kubra]:" Inovasi dibagi menjadi 'wajib' (wajiba), 'dilarang' s (muh.arrama), 'direkomendasikan' s (manduba), 'ofensif' s (makruha ), dan 'acuh tak acuh' s (mubaha). Cara [melakukan diskriminasi] dalam hal ini adalah bahwa inovasi diperiksa dalam terang peraturan Hukum (qawa `id al-shari` a) Jika jatuh di bawah peraturan obligatoriness (ijab) maka wajib.; di bawah peraturan prohibitiveness (tah.rim) maka dilarang; recommendability, kemudian direkomendasikan; offensiveness, maka ofensif; ketidakpedulian, kemudian acuh tak acuh. "
Imam Nawawi mengatakan Imam Baihaqi Dikisahkan dengan rantai suara Imam Syafi'I berkata: Inovasi adalah dua jenis (al-bid `atu bid` atan): inovasi disetujui (bid `mah.mûda a) dan ditolak inovasi (bid` madhmûma a). Apapun sesuai dengan Sunnah disetujui (mah.mûd) dan apa pun menentang itu keji (madhmûm). "Dia digunakan sebagai bukti nya pernyataan` Umar ibn al-Khat.t.âb (ra) tentang [jemaat] yg berlebihan malam doa di bulan Ramad.ân: "What a inovasi baik ini" [Abu al-Asma 'wa al-Lughat, Imam Nawawi, Volume 003, Page 23]

Sahih Muslim bi Sharah Imam al-Nawawi, Publish: Beirut: Dar al-Fikr


Imam Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Garib al-Hadits wa al-Athar, Publish: Dar al-Ihyah al-Turath al-Arabi, Beirut, Lebanon
Imam Imam Ibn Atsir mengatakan: “Bid` adalah dua macam: tawaran `a bimbingan dan tawaran` a dari kesesatan (bid `atu huda wa-bid` atu d.alala). Apapun bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya: yang berada dalam lingkup menyalahkan dan kutukan. Dan segala sesuatu yang masuk ke dalam umum dari apa yang Allah atau Nabi-Nya memuji atau stres: yang berada dalam lingkup pujian. Apapun tidak memiliki preseden seperti kedermawanan ekstrim atau kebaikan – seperti antara tindakan terpuji. Tidak diizinkan bahwa seperti dianggap bertentangan dengan syariat karena Nabi telah menetapkan bahwa seperti akan membawa hadiah ketika ia berkata: “Barangsiapa lembaga praktik yang baik dalam Islam (man sanna fil-islami sunnatan h.asana) memiliki pahala dan pahala dari semua orang yang melakukannya “dan dia berkata, sebaliknya,”. siapapun lembaga praktek yang buruk dalam Islam (waman sanna fil-islami sunnatan sayyi’atan) beruang tanggung jawab dan tanggung jawab dari semua orang yang melakukannya. “[Diriwayatkan dari Jarir Ibn Abd Allah al-Bajali Muslim] tersebut adalah ketika tindakan tersebut bertentangan dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memerintahkan …. Hal ini dalam arti bahwa hadits “setiap inovasi adalah sesat” [Bukhari, Muslim] dipahami:. Ia berarti, apapun yang bertentangan dengan dasar hukum dan tidak setuju dengan Sunnah “[Imam Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Garib al-Hadits wa al-Athar, Volume 001, Halaman 106-7]


al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam, Oleh Ibnu Hazam al-Zahiri, Publish, Dar al Hadits, Beirut / Lebanon
Ibn Hazam al-Zahiri on bidah Dia Said: Bid `ah dalam Agama adalah segala sesuatu yang tidak datang kepada kita dalam Al-Qur’an maupun dari Rasulullah, kecuali bahwa seseorang dihargai untuk sebagian dan mereka yang melakukan hal ini yang dimaafkan jika mereka memiliki niat yang baik. Dari itu adalah pahala dan sangat baik (hasan), yaitu, apa yang awalnya diizinkan (ma kana as.luhu al-ibah.a) seperti yang diriwayatkan dari Umar (ra): “betapa baiknya bidah ini! “tersebut mengacu pada semua perbuatan baik yang teks diatur dalam syarat-syarat umum keinginan bahkan jika praktiknya tidak tetap dalam teks. Dan itu adalah tercela yang tidak ada alasan seperti apa yang memiliki bukti terhadap ketidakabsahannya. [al Ahkam fi Ushul = al-Ahkam, Volume 001, No 47 Halaman]

PEMBAGIAN BID’AH MENURUT IMAM ‘IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM (Kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam”)

 

Di dalam kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam” karya Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H/ 1262 M) cetakan “Al-Maktabah Al-Husainiyah” Mesir tahun 1353 H / 1934 M juz 2 halaman 195 diterangkan sebagai berikut:Artinya: “Bid’ah adalah suatu pekerjaan yang tidak dikenal di zaman Rasulullah saw”.

Bid’ah terbagi ke dalam 5 bagian, yaitu: 1. Bid’ah Wajib, 2. Bid’ah Haram, 3. Bid’ah Sunnah, 4. Bid’ah Makruh, dan 5. Bid’ah Mubah.


Adapun cara untuk mengetahui kelima bid’ah tersebut adalah engkau harus menjelaskan tentang bid’ah berdasarkan atas kaedah-kaedah hukum syara’.
Maka seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang kewajiban bid’ah, maka disebut bid’ah wajib. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang keharaman bid’ah, maka disebut bid’ah haram. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kesunnahan bid’ah, maka disebut bid’ah sunnah. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kebolehan bid’ah, maka disebut bid’ah mubah.

I. Contoh Bid’ah Wajib:

1.  Sibuk belajar ilmu nahwu untuk tujuan memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Bid’ah tersebut hukumnya wajib, karena memelihara syari’at juga hukumnya wajib. Tidak mudah memelihara syari’at terkecuali harus mengetahui ilmu nahwu. Kata kaedah ushul fiqih: “Maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa wajibun”. Artinya: “Sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya wajib”.
2. Memelihara bahasa Al-Qur’an dan Hadits yang memiliki arti yang asing (perlu penjelasan yang tepat dan benar).
3. Pembukuan Ilmu Ushul Fiqih.
4. Al-Kalam fil Jarhi wat Ta’dil (kalam seorang perawi hadits yang menyebabkan periwayatan haditsnya ditolak atau dilemahkan terhadap suatu hadits) dengan tujuan untuk membedakan hadits yang shahih dari yang tidak shahih.
Sesungguhnya kaedah-kaedah syari’at Islam menunjukkan bahwa memelihara syari’at itu hukumnya fardhu kifayah di dalam sesuatu yang berlebih atas kadar yang ditentukan.
Tidaklah mudah memeliharta syari’at  terkecuali dengan sesuatu yang diceritakan di atas.

II. Contoh Bid’ah Haram.


Di antaranya: Golongan Qadariyah, Jabariyah, Murji’ah, dan Mujassimah. Menolak terhadap mereka termasuk bid’ah yang wajib.

III. Contoh Bid’ah Sunnah.


Di antaranya: Memperbaharui pesantren dan madrasah, membangun jembatan, mengerjakan perbuatan bagus yang tidak ada di masa permulaan Islam,  mengerjakan shalat tarawih (berjama’ah), ucapan tasawuf yang mengandung pengertian yang dalam, dan ucapan di dalam perdebatan untuk mencari dalil dalam menghimpun masalah-masalah hukum dengan tujuan mencari ridha Allah swt.

IV. Contoh Bid’ah Makruh.


Di antaranya menghiasi masjid, dan menghiasi mashaf. Adapun membaca Al-Qur’an secara “Lahn (keliru dalam bacaan I’rabnya)” sekira-kira berubah lafadz-lafadznya, maka menurut pendapat ulama yang benar adalah termasuk bid’ah haram.
Contoh Bid’ah Mubah.

Di antaranya: Bersalam-salaman sesudah shalat shubuh dan ‘ashar, meluaskan yang enak-enak seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai pakaian panjang, dan meluaskan lengan baju.
Sebagian bid’ah mubah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama menjadikannya bid’ah makruh, dan sebagian yang lain menjadikannya sunnah-sunnah yang dilakukan di masa Rasulullah saw dan sesudah masa beliau, seperti membaca “Isti’adzhah  
(أعوذ بالله من الشيطان الرجيم)”   di dalam shalat dan basmalah.

SCAN KITAB ASLI MANAQIB IMAM SYAFII ‘ALA IMAM BAIHAQI DAN KITAB IBNU TAYMIYAH : IMAM SYAFII BAGI 2 BID’AH (BID’AH HASANAH DAN BID’AH DLOLALAH)

Bagaimana pandangan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Bid’ah Hasanah ?
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،
وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :
Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).
Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).
(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).
Lihat Scan Kitab Manaqib asy-Syafi’i di bawah ini

Bukti Ibnu Taymiyah membagi Bid’ah menjadi 2 : Bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah (mengakui pendapat imam Syafii dan ijma ulama sunni)

Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”
Penulis : Ibnu taymiyah
Halaman : 144 – 145
Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.
Legalitas Bid’ah Hasanah tidak pernah menjadi permasalahan dan perdebatan sebelum datang nya Wahabi, keberagaman penjelasan para ulama tentang Bid’ahbukan karena perselisihan dalam memahami hakikat Bid’ah, tapi karena kekayaan ilmu yang dimiliki oleh para ulama, tapi ketika bahasa para ulama tersebut dipahami oleh kaum yang sempit pemahaman, mulailah benih-benih perselisihan muncul dan alangkah menyesal ketika kebodohan tersebut dijadikan senjata untuk membid’ah-sesatkan amalan yang telah dilegalisasi oleh syara’ melalui dalil-dalil dhanni atau ijtihadi, dan akhirnya kata Bid’ah menjadi senjata untuk memecah-belah ummat ini

Bagaimana pandangan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Bid’ah Hasanah ?
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،
وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :
Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).
Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).
(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).
Lihat Scan Kitab Manaqib asy-Syafi’i di bawah ini
Pernyataan Imam Syafi’i di atas adalah kelanjutan dari pemahaman Imam Syafi’i terhadap Hadits larangan Bid’ah, bukan malah dihantamkan dengan Hadits larangan Bid’ah, maka dapat dipahami bahwa Imam Syafi’i tidak otomatis menganggap setiap perkara baru dalam Agama itu Bid’ah Dholalah, tapi setiap perkara baru ada dua kemungkinan yaitu  apabila bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’ maka itu Bid’ah Dholalah dan inilah Bid’ah yang dilarang dalam Hadits “Setiap Bid’ah sesat”.
Sementara bila perkara baru dalam Agama itu tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’ maka inilah Bid’ah Hasanah dan ini tidak termasuk dalam Bid’ah yang terlarang dalam Hadits “Kullu Bid’atinDholalah”.
Sangat jelas penjelasan Imam Syafi’i tentang legalitas Bid’ah Hasanah, batasan Bid’ah Dholalah adalah bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, selama sesuatu yang baru dalam Agama itu tidak bertentangan dengan 4 batasan tersebut, maka itu bukan Bid’ah Dholalah dan tidak termasuk menambah atau mengada-ngada syari’at baru, karena batasan Bid’ah Dholalah bukan pada tidak ada nash yang shorih, atau padaadakah rasul dan para sahabat telah melakukan nya.
Memahami Perkataan Imam Syafi’i Dalam Pembagian Bid’ah
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ
“Perkara baru ada dua macam”
Maksudnya : semua perkara baru baik Ibadah atau bukan Ibadah, baik Aqidah atau bukan Aqidah terbagi kepada dua macam, poin yang perlu di ingat adalah Imam Syafi’i sedang memisah dan memilah antara dua macam perkara baru yang tentu saja perkara tersebut tidak di masa Rasulullah dan para sahabat.
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا
“salah satunya adalah perkara baru yang menyalahi Kitab (Al-Quran), atau Sunnah (Hadits), atau Atsar, atau Ijma’.”
Maksudnya : yang pertama adalah perkara baru yang menyalahi Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, poin penting di sini adalah “Yukhalifu” atau “menyalahi” jadi perkara baru itu sesat bukan karena semata-mata ia baru ada dan belum ada di masa rasul dan sahabat, tapi karena menyalahi 4 perkara di atas.
فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ
“maka perkara baru ini adalah Bid’ah Dholalah”
Maksudnya : perkara baru yang menyalahi Al-Quran atau menyalahi As-Sunnah atau menyalahi Atsar atau menyalahi Ijma’, maka inilah Bid’ah Dholalah yang terlarang dalam Hadits larangan Bid’ah, Bid’ah Dholalah bukan sesuatu yang tidak tersebut secara khusus dalam Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, tapi harus diperiksa dulu apakah ia menyalahi atau justru sesuai dengan Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’.
وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا
“yang kedua, perkara baru yang baik lagi tidak menyalahi bagi salah satu dari ini (Al-Quran, As-Sunnah, Atsar, dan Ijma’)”
Maksudnya : yang kedua adalah perkara baru yang baik dan tidak menyalahi satupun dari Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, bukan maksud baik itu hanya dianggap baik, tapi baik di sini adalah tidak menyalahi 4 perkara tersaebut, dan poin penting di sini juga pada “Tidak menyalahi” jadi perkara baru tidak otomatis Bid’ah dan Sesat,  tapi ketika ia menyalahi salah satu dari 4 perkara tersebut, maka otomatis sesat, dan bila tidak menyalahi salah satu dari 4 perkara tersebut maka otomatis tidak sesat, baik dinamai dengan Bid’ah Hasanahatau Bid’ah Lughawi atau dengan bermacam nama lain nya.
وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
“dan perkara baru tersebut tidak tercela”
Maksudnya : perkara baru yang tidak menyalahi Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’ adalah Bid’ah yang tidak tercela atau di sebut juga dengan Bid’ah Hasanah.
Bid’ah Hasanah itu Syar’i atau Lughawi ?
Ini bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan, tidak berpengaruh apapun terhadap legalitas Bid’ah Hasanah, bahkan yang lebih bodoh lagi adalah mempermasalahkan adakah Bid’ah Hasanah ?,ulama pun berbeda pendapat dalam hal ini, tapi satu tujuan, ini bukan alasan untuk mengingkari Bid’ah Hasanah dalam Agama, karena walaupun Bid’ah Hasanah itu Lughawi atau Syar’i tetap saja maksudnya adalah perkara baru yang tidak bertentangan dengan Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, permasalahan ini hanya karena berbeda dalam memaknai Bid’ah pada Syara’.
Maksud Bid’ah pada Syara’ menurut Imam Nawawi adalah :
إحداث ما لم يكن في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم، وهي منقسمه إلى حسنة وقبيحة
“mengadakan perkara baru yang belum ada di masa Rasulullah SAW, dan ia terbagi kepada hasanah (baik), dan qabihah (buruk)”.
Atas definisi Bid’ah pada syara’ menurut Imam Nawawi di atas, maka Bid’ah Hasanah adalah satu pembagian dari Bid’ah Syar’i, bukan Bid’ah Lughawi, kerena sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah dinamakan Bid’ah, tapi ada dua kemungkinan, bila sesuai dengan dalil-dalil syar’i maka itu Bid’ah Hasanah, dan bila menyalahi dalil-dalil syar’i maka ituBid’ah Qabihah atau Bid’ah Dholalah.
Maksud Bid’ah pada Syara’ menurut Ibnu Rajab adalah :
ما أحدث مما لا أصل له في الشريعه يدل عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا، وإن كان بدعة لغة
“perkara baru yang tidak ada dasar dalam syari’at yang menunjuki atas nya, dan adapun perkara baru yang ada dasar dari syara’ yang menunjuki atas nya, maka ia bukan Bid’ah pada Syara’, sekalipun Bid’ah pada Lughat”.
Atas definisi Bid’ah pada Syara’ menurut Ibnu Rajab, maka Bid’ah Hasanah adalah bukan pembagian dari Bid’ah pada Syara’, tapi Bid’ah Hasanah adalah Bid’ah Lughawi, karena maksud Bid’ah pada Syara’ yang seperti ini tidak mungkin terbagi kepada Hasanah (baik), sesuatu yang tidak ada dasar dari Syara’ otomatis Buruk atau sesat.
Maka sekalipun berbeda cara memahami Bid’ah pada Syara’ dan bereda dalam mengkategorikan Bid’ah Hasanah, tapi tidak berpengaruh pada legalitas Bid’ah Hasanah dalam Agama, ini bukan alasan mengingkari Bid’ah Hasanah, apalagi menjadikan sebagi alasan untuk membid’ahkan amalan-amalan yang tidak ada di masa para salafus sholeh, tapi ada dasar dari syara’ dan tidak menyalahi dalil-dali syar’i.
Kebesaran nama Imam Syafi’i tidak sanggup mereka tantang pernyataan sikap Imam Syafi’i secara langsung, tapi mereka mempermainkan pendapat Imam Syafi’i agar sesuai selera mereka dan cocok dengan kesalahpahaman mereka, mereka beralasan bahwa Bid’ah Hasanah yang dimaksud oleh Imam Syafi’i adalah Bid’ah Lughawi, untuk tetap bisa membid’ah-sesatkan amalan seperti Tahlilan, Yasinan, Maulidan dan sebagai nya.
Padahal alasan itu tidak ada hubungan dengan pembagian Bid’ah Hasanah dari Imam Syafi’i, karena sekalipun kita maksudkan dengan Bid’ah Lughawi, tetap saja yang dimaksud Bid’ah Hasanah oleh Imam Syafi’i adalah perkara baru dalam Agama yang tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar, dan Ijma’, inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa Bid’ah Hasanah adalah sesuatu yang baru (tidak ada di masa rasulullah dan para sahabat) tetapi tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, biarpun tidak ada dalil yang shorih. Wallahu a’lam.

Bukti Ibnu Taymiyah membagi Bid’ah menjadi 2 : Bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah (mengakui pendapat imam Syafii dan ijma ulama sunni)

Tanyakan Kpd Org2 Wahabi: Beranikah Kalian Menyesatkan Ibnu Taimiyah Yg Telah Membagi Bid’ah Kepada 2 Macam???

by AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT on Sunday, March 4, 2012 at 11:21pm ·
Kaum Wahabi mengatakan bahwa pembagian bid’ah kepada 2 bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah pembagian batil (sesat), sementara Ibnu Taimiyah; “Imam tanpa tanding meraka”, mengatakan bahwa bid’ah terbagi kepada 2 bagian di atas. Dari sini anda katakan kepada orang-orang Wahabi itu; “Apakah kalian akan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah sesat ahli bid’ah??? Terhadap para ulama Ahlussunnah; seperti Imam an-Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam al-‘Izz ibnu Abdissalam, dan lainya; kalian berani mengatakan bahwa mereka sesat karena membagi bid’ah kepada 2 bagian di atas??? Apakah kalian mengatakan Ibnu Taimiyah sesat karena telah membagi bid’ah kepada 2 baian; bid’ah hasanah, dan bid’ah sayyi’ah”???
Orang-orang Wahabi “mati kutu”….!!!!
Berikut ini adalah tulisan Ibnu Taimiyah dalam membagi bid’ah kepada 2 bagian tersebut dalam kitab karyanya berjudul “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”, silahkan dicek…..!!!
Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”
Penulis : Ibnu taymiyah
Halaman : 144 – 145
Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.

AL-ALBAANY MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARY


Di sediakan oleh ;
Abu Lehyah al-Kelantany
(0133005046)
بيان الحق وكشف أهل الضلال

بسم لله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين,
المنـزه عن الشبيه والمثيل والزوجة والولد والإخوان، الموجود بلا جهة ولا مكان، المنـزه عن كل ما لا يليق به من الصفات والنعوت، والملك القهار ذي الجلال والجبروت، وأفضل الصلاة وأتم السلام على سيدنا محمد خير الأنام، وخاتم أنبياء الإسلام، وعلى ءاله الطاهرين، وصحبه الغر الميامين، ومن اتبع منهاجهم واقتفى أثرهم إلى يوم الدين.ـ”قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “حتى متى ترعون عن ذكر الظالم اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس

Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firmanallah :
كل سيء هالك إلا وجهه
قال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه
Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :
(( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))

” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman“. Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523.Tentang takwilan Imam Bukhari ini adalah suatu yang diketahui ramai kerana jika dilihat pada naskhah yang ada pada hari ini tidak ada yang lain melainkan termaktub di sana takwilan Imam Bukhari terhadap ayat Mutasyabihat tadi. Di samping itu juga, ini adalah antara salah satu dalil konsep penakwilan nusush sudah pun wujud pada zaman salaf (pendetailan pada pegertian makna).

 Bagaimana Beliau berani melontarkan pengkafiran terhadap Imam Bukhary As-Salafi dan mendakwa Imam Bukhary tiada iman dalam masa yang sama beriya-riya mengaku dirinya sebagai Muhaddits??!! memalukan je..

Beliau bukanlah hanya terhenti di situ sahaja, tetapi berani lagi mengeluarkan fatwa-fatwa sesat termasuk pengharaman bertawassul kepada dengan diri Nabi Sollallahu ‘Alaihi WassallaM dan menjadikan Istigahtsah selain daripada nabi sebagai syirik.
Perkara ini boleh di rujuk didalam kitabnya (( AL-TAWASSSUL)), m/s 70 dan 73
. Maka apa yang akan dikata oleh pengikut yang taasub dengan Al-Albaany jika penulis mengatakan Imam Bukhary meriwayatkan Hadis Tentang hari kiamat yang menunjukkan keharusan beristighatsah..yallah nanzur…
(( فبينما هم كذلك استغاثوا بآدم ثم موسى ثم محمحد ))

” maka ketika mana mereka juga beristighatsah dengan nabi Adam kemudian Nabi Musa, kemudian nabi Muhamad”..
Sebenarnya berlambak lagi dalil-dalil tentang keharusan bertawassul dan beristighatsah yang sohih dan diriwayatkan oleh ulama’-ulama’ muhadditsin yang muktabar….

CUME WAHHABY KENO GHETI BAHASO CIKIT, JANGE DOK GHETI KAPIR KO OGHE JAH…HADITS TOK GHETI JGN KECEK. PUAK WAHHABI DALIL TAK DOK, KONA JAH BANYOK. PUOK-PUOK ASWJ BERMANHAJ SUNNAH DAN PENUH DENGAN DALIL..INGAT JANGE NIPU DALAM AGAMO.. MAHKAMAH ALLAH ADALAH MAHKAMAH PALING ADIL..TUNGGULAH WAHAI WAHHABI…
Disediakan oleh :
Abu Lehyah Al-Kelantany
0133005046

Bukti Wahaby adalah jamaah takfir!

Sudah jelas bahwa mayority muslim di dunia adalah ahlusunnah (sunni) yang berpegang teguh dengan 4 madzab ahlusunnah yangberakidah mengikut nabi dan sahabat, yang mana kaidah aqidah nabi dan sahabat telah disusun oleh imam alasy’ary.

Maksud imam asy’ary menyusun kaidah tauhid adalah untuk melestarikan pemahaman aqidah nabi dan sahabat, dan menjaga agar aqidah umat (umat akhir zaman yang lemah ilmu, iman dan amal) tetap mengikuti aqidah nabi saw…
kaidah tauhid imam al asy’ary dikenal dengan kaidah aqidah 50 (karena terdiri dari : 20 sifat wajib Allah dan 20 sifat yang mustahil, 1 sifat yang jaiz utk Allah….4 sifat wajib utk nabi, 4 sifat yg mustahil bagi nabi dan 1 sifat yang boleh)…
inilah aqidah mayoritas umat islam yang disebut sunni atau ahlusunnah!!
Aqidah ini adalah aqidah seluruh ulama 4 madzab dr dulu hingga sekarang! Tokoh-tokoh aqidah ini diantaranya sallahudin al ayubui (penakluk baitul maqdis), imam ibnu hajar, imam nawawi, imam alghazali, imam subki, imam aljauziah, imam suyuti, dsb……Aqidah yang diajarkan di madrasah al azhar asyarif (kairo-mesir) lebih dari 10 abad…!
tapi sekte sesat wahaby telah mengkafirkan aqidah ahlusunnah ini!
inilah bukti kitab takfir wahaby syaikh ‘ibnu ‘abdul wahab annajdy dan syaikh abdul aziz bin baz laknatullah…..yang megkafirkan aqidah sunni(asya’irah)!

Asya’irah dimata Wahabi


Mereka mendakwa Asya’irah dari golongan yang bertentangan dengan Para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in dan Imam yang empat Shafe’i , Hambali , Maliki dan Hanafi dalam masaalah aqidah dan tidak berhak untuk digelar sebagai Ahli Sunnah Wa Al-Jama’ah.
Golongan Asya’irah bukan hanya sekadar menyalahi Ibnu Taimiyyah bahkan menyalahi mejoroti Imam-imam dan para ulama’ yang diatas jalan Salaf.
Demikianlah Wahabi memomok-momokkan Golongan Asya’irah dengan dakwaan-dakwaan yang batil dan bohong!!!
Awas Aliran Wahabi bukan hanya bercanggah dalam masaalah cabang bahkan yang sungguh menakutkan percanggahan dalam soal-soal aqidah !!!


Lihat bagaimana golongan Wahabi menkafirkan Ulama’ Asya’irah.Siapakah ahli Takfir?? siapakah yang mula menimbulkan api fitnah takfir?? Kami mempertahankan ASWj dari pengkafiran golongan Khawarij modern ini.

Sumber : http://salafytobat.wordpress.com/

Hanya dengan “Amal shalih dan dakwah ” maka akan dapatkan kesempurnaan islam – iman dan ihsan (menurut Alquran dan hadis)

Hadis mengenai : ISLAM – IMAN – IHSAN:


عن عمر (رضي الله عنه) أيضاً قال: بينما نحن جلوس عند رسول الله (صلى الله عليه وسلم) ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يرى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد، حتى جلس إلى النبي (صلى الله عليه وسلم) ، فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه، وقال: يا محمّد أخبرني عن الإسلام؟! فقال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : “الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً”، قال: صدقت. فعجبنا له يسأله ويصدّقه، قال: فأخبرني عن الإيمان؟ قال: “أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره”، قال: صدقت. قال: فأخبرني عن الإحسان؟ قال: “أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك”. قال: فأخبرني عن الساعة؟ قال: “ما المسؤول عنها بأعلم من السائل”، قال: فأخبرني عن أماراتها؟ قال: “أن تلد الأمة ربتها، وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان”، ثم انطلق. فلبثت ملياً، ثم قال: “ياعمر أ تدري من السائل؟” قلت: الله ورسوله أعلم، قال: “فإنه جبريل أتاكم يعلّمكم دينكم”. رواه مسلم)

Maksudnya:
Daripada Saiyidina ‘Umar Radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki yang memakai pakaian yang sangat putih, berambut sangat hitam, yang tidak ternampak pada dirinya kesan-kesan tanda musafir dan tidak seorang pun di kalangan kami yang mengenalinya. Lalu dia duduk menghampiri Nabi Sallallahu’alaihiwasallam, lalu disandarkan kedua-dua lututnya ke lutut Baginda dan meletakkan dua tapak tangannya atas dua paha Baginda seraya berkata:
Wahai Muhammad! Terangkan kepadaku tentang Islam.
Lalu Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam bersabda: Islam itu bahawa engkau naik saksi bahawa tiada Ilah melainkan Allah dan bahawa Muhammad itu utusan Allah, (dan bahawa) engkau mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan haji ke BaitulLah (Mekah) sekiranya engkau berkuasa mengerjakannya.
Lelaki tersebut berkata: Benarlah engkau.
Maka kamipun merasa hairan kepadanya, dia yang bertanya dia pula yang membenarkannya.
Dia bertanya: Terangkan kepadaku tentang Iman.
Baginda bersabda: (Iman itu ialah) bahawa engkau percaya kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Kiamat dan bahawa engkau percaya kepada Qadar baik dan buruk.
Lelaki itu berkata: Benarlah engkau.
Dia berkata lagi: Terangkanlah kepadaku tentang Ihsan.
Baginda bersabda: Ihsan itu ialah bahawa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Sekiranya engkau tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Lelaki itu bertanya lagi: Terangkan kepadaku tentang Kiamat.
Baginda bersabda: Orang yang ditanya tentang Kiamat tidaklah lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.
Lelaki itu berkata: Maka terangkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.
Baginda bersabda: (Antara tanda-tandanya ialah) apabila seorang hamba perempuan melahirkan tuannya dan apabila engkau melihat orang-orang miskin yang berkaki ayam, tidak berpakaian dan papa kedana yang hanya menjadi pengembala kambing berlumba-lumba membina bangunan (iaitu bertukar menjadi kaya raya). Kemudian lelaki itu berlalu, lalu aku terdiam sebentar.
Kemudian Baginda bertanya: Wahai ‘Umar!
Adakah engkau tahu siapa lelaki yang bertanya itu?
Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Baginda bersabda: Sesungguhnya dia adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajar kamu tentang agama kamu.
(Hadis riwayat al-Imam Muslim, al-Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah dan Ahmad, musnad ).


1. Cara mendapatkan islam yang sempurna
selain mengerjakan rukun islam dan amal shalih lainnya, untuk mendpatkan hakikat islam = kita harus buat dakwah:

Dakwah Ada Tiga Cara ,cara yang pertama ialah dengan Lidah kita ,yang kedua dengan Hal kita prilaku kita yang bisa dijadikan orang lain contoh , yang ketiga dengan Hati ,ini adalah selemah-lemah iman.


     Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru/mengajak kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang  Islam (yang menyerah diri)“
tafsir: menurut ulama, seorang akan boleh mendapatkan hakikat islam / mengatakan saya orang islam (islam yang benar /sempurna) setelah ia melakukan salah satu tiga cara dakwah di atas ,untuk  manusia menyeru kepada agama Allah dan beramal shalih.

sedangkan ucapan terburuk:


“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman, 31 : 6 )

2. Cara mendapatkan Iman yang sempurna:
 selain mengerjakan rukun iman  dan amal shalih lainnya, untuk mendapatkan hakikat iman = kita  harus buat dakwah:

 Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia,menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Ali imran 110).
khusus dalam ayat ini , lafadz “BER-IMAN” setelah lafadz “menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”, menurut ulama: ini maksudnya : ” kesempurnaan iman didapat dengan jihad (amr ma’ruf nahi mungkar”

Catatan: kalimat dilahirkan khusus  (ulama ulamilin ) syarat dakwah billisan 
sebagai mana dalam hadis:
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Terjemah hadith / ترجمة الحديث :
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”(Riwayat Muslim)

Iman yang sempurna tanpa SYIRIK didapat dengan dakwah:

 Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata , Jalanku dan orang-orang yang mengikutiku , Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf 108)

3. Mendapatkan ihsan yang sempurna
selain berdzikir dan beramal shalih, untuk mendapat hakikat ihsan, maka kita  harus berdakwah=dengan lidah=dengan hal=dengan Hati.menyeru kepada islam dengan  mengamal kan ilmu  sungguh-sungguh dan istikomah
Dan orang-orang yang berjihad/untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang IHSAN/berbuat baik.
DALAM AYAT ini : berjuang /mendakwahkan agama Allah lebih dahulu setelah janji Allah “Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang IHSAN/berbuat baik.”
dengan ayat ini dapat di tafsirkan pula  : dengan berjuang /mendakwahkan agama Allah akan menjadi mukhsin ( orang yang ihsan)
dengan tetap menjaga dzikir, amal shalih dan terus berdakwah insya Allah, akan mendapat hakikat ihsan:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maksudnya:
“Maka besarlah kecelakaan (azab siksa) bagi mereka yang keras hatinya untuk berzikrullah. Mereka itu adalah dalam kesesatan yang nyata.”     
                                                                                         (Surah al – Zumar, ayat: 22)

kisah dakwah waliyullah mencapai derajat makrifat:
kisah waliyullah syaikh abdul qadir jailani , berdakwah meninggalkan kampung halaman selama 25 tahun sperti nabi isa (manaqib syaikh abdul qaidr jailanai)
kisah imam ghazali meninggal kan kampung halaman untuk berdakwah selama 13 tahun seperti nabi ibrahim
kisah waliyullah syaikh mu’inuddin khisti , dakwah meninggalkan kampungnya (iraq) berjalan kaki sampai india, dan mengislamlan lebih 6 juta orang di india (pengazaz thareqat khistyah)
 


sumber : http://salafytobat.wordpress.com/